Selasa, Agustus 11, 2009

Buletin Ad-Dakwah Edisi 37 : MENYAMBUT DATANGNYA RAMADHAN 1430 H

Kaum muslimin rahimakumullah,
Sebagaimana kita ketahui bersama, sebentar lagi akan masuk bulan Ramadhan, bulan dimana kita diwajibkan oleh Allah SWT untuk menjalankan ibadah shaum (puasa) sebulan penuh. Allah SWT berfirman:

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, …” (QS. Al Baqarah 185).

Kaum muslimin rahimakumullah,
Rasulullah saw. biasanya menyambut gembira datangnya bulan Ramadhan serta menerangkan keutamaan dan keistimewaan bulan ini. Ibnu Khuzaimah dalam kitab At Targhib Juz II/217-218 meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah saw. pada hari terakhir bulan Sya'ban berkhutbah di hadapan kaum muslimin:

"Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh suatu bulan yang agung lagi penuh berkah, yaitu bulan yang di da¬lamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadi¬kan puasanya suatu kewajiban dan qiyam (shalat) pada malam harinya suatu tahawwu' (ibadah sunnah yang sangat dianjurkan). Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan (sunnah) di dalamnya, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan kewa¬jiban (fardlu) di bulan yang lain. Dan siapa saja yang menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan, (ia diganjar pahala) sama de¬ngan orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain. Ramadhan ada¬lah bulan sabar, sedangkan sa¬bar itu pahalanya adalah surga (al jannah). Ramadhan itu ada¬lah bulan memberikan pertolong¬an dan bulan Allah menambah rizki para mukmin di dalamnya. Siapa saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi pengam¬punan atas dosa-dosanya, ke¬merdekaan dirinya dari api ne¬raka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu".

Kaum muslimin rahimakumullah,
Sayang sekali hari ini tidak ada pemimpin negara/umat Islam yang melaksanakan apa yang disampaikan oleh Rasul tersebut, sebagai pemimpin atas umat Islam sedunia dan berbicara kepada kaum muslimin di seluruh dunia.

Sebab, umat Islam sekarang terpecah-belah dalam lebih dari 50 negara. Umat yang pernah bersatu dan menjadi negara adikuasa selama berabad-abad ini kini terpecah-belah menjadi berbagai bangsa dan negara yang berbeda satu sama lain, dimana satu negara dengan negara yang lain punya sistem pemerintahan, konstitusi, dan undang-undang serta peraturan-peraturan yang berbeda satu sama lain. Sehingga umat dipakasa hidup dalam kebangsaan dan kewarganegaraan yang berbeda-beda satu sama lain. Orang Malaysia merasa asing di Indonesia. Orang Indonesia merasa berbeda dengan orang Pakistan dan Arab Saudi. Bahkan orang Saudi merasa tidak sama dengan orang Oman atau Yaman. Padahal semua mereka muslim, melaksanakan ibadah shaum Ramadhan di bulan yang sama dan sama-sama pergi haji ke tanah suci Mekkah. Akibatnya, orang Indonesia yang bekerja di perkebunan-perkebunan di Malaysia yang halal menurut syariat Allah, dicap sebagai pendatang haram oleh pemerintah Malaysia karena surat-surat keimigrasiannya tidak lengkap. Orang Malaysia yang fasih berbahasa Arab dianggap remeh oleh bangsa Arab, namun kalau mereka bercakap-cakap dalam bahasa imperialis Inggris, mereka langsung dihormati! Inilah musibah yang menimpa umat Islam! Innalillahi wainnailaihi raajiun!

Kaum muslimin rahimakumullah,
Akibat pemerintahan yang berbeda, selalu berulang-ulang umat Islam di berbagai negara mengawali ibadah bulan Ramadhan pada hari yang berbeda dan mengakhiri bulan Ramadhan pada hari yang berbeda-beda, bisa sampai beda 3 hari. Tentu ini hal yang mustahil. Sebab, kalau pun berbeda dalam memulai maupun mengakhiri Ramadhan, mestinya perbedaan itu hanya 1 hari. Yakni, perbedaan penetapan ulama yang melihat awal bulan Ramadhan (ru’yatul hilal) pada akhir bulan Sya’ban, dan ulama yang menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari karena di akhir bulan Sya’ban belum terlihat hilal awal bulan Ramadhan, Demikian juga pada kasus 1 Syawal, perbedaan hanya berkisar pada ketetapan ulama yang berpuasa 29 hari karena di akhir Ramadhan sudah melihat hilal awal bulan Syawal dengan ketetapan ulama yang berpuasa 30 hari lantaran hilal awal bulan Syawal belum kelihatan pada waktu itu. Jadi tidak masuk akal perbedaan sampai 2 atau tiga hari.

Kenapa hal itu terjadi? Karena umumnya masing-masing pemerintah merasa punya otoritas untuk menetapkan awal dan akhir Ramadhan di wilayahnya. Kalau hal itu terjadi di zaman Imam As Syafi’I, mungkin tidak berdampak. Namun di masa kini dimana dunia sudah bagaikan desa yang kecil, dimana kejadian di satu belahan bumi dapat dengan segera dan seketika diketahui oleh penduduk belahan bumi yang lain, maka dampaknya cukup serius, yakni terlihatnya fenomena perbedaan awal dan akhir Ramadhan yang berkembang menjadi perbendaan pendapat dan perpecahan. Tentu bagi umat yang merindukan persatuan dan kesatuan hal ini menjadi sesuatu yang menyesakkan dada! Asraghfirullahal’azhim!

Kaum muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu, para ulama dan pimpinan berbagai organisasi Islam perlu berkumpul dan bermudzakarah untuk secara serius membahas persatuan dan kesatuan umat, termasuk bermusyawarah bagaimana menyambut Ramadhan yang sebaik-baiknya menurut syariat Islam, bagaimana mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai amalan ibadah yang betul-betul mewujudkan peningkatan kualitas ketaqwaaan umat, baik dalam aspek pribadi maupun sosial politik menurut syariat Islam. Termasuk perkara yang mendesak untuk didiskusikan adalah berbagai perkara yang urgen untuk gerakan membangkitkan umat Islam, agar terwujud grand strategy bersama perjuangan umat mewujudkan kehidupan Islam yang kaffah di bawah naungan kalimat tauhid Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah.

Selanjutnya dengan dengan strategi perjuangan bersama yang dibuat, masing-masing organisasi dan gerakan Islam mengimplementasikan dalam berbagai program masing-masing baik yang sifatnya pembinaan kader internal organisasi maupun pembinaan umat secara umum. Di samping itu tentunya bisa dibagi tugas dalam menangani berbagai perkara pembinaan dan advokasi umat maupun penangkalan atas berbagai perkara yang termasuk dalam kategori ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan terhadap umat maupun berbagai gerakan umat. Dan tentunya komunikasi, koordinasi, dan sinergi terus-menerus harus dilakukan sehingga terwujud konsolidasi hakiki yang didasari ikatan persaudaraan Islam (raabithah ukhuwah Islamiyah).

Dengan menjadikan aktivitas ibadah Ramadhan 1430H sebagai momentum gerakan konsolidasi umat Islam, semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada para pemimpin umat agar bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya membawa umat ini kepada kehidupan Islam kaffah yang diridloi Allah SWT. Wallahua’lam!
Baarakallahu lii walakum…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar